ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS PADA LANSIA (GERONTIK )

Keperawatan Gerontik
Diabetes Militus 

Oleh : 
Kelompok 4
Nurfita (S.0017.P.029)
Kirana (S.0017.P.022)
Hasnatang (S.0017.P.016)
Sumiatin (S.0017.P.036)
Anita Sari (S.0017.P.005)

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES KARYA KESEHATAN KENDARI
2020




KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat TuhanYang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan  judul“ ASUHAN KEPERAWATAN DM “. Makalah  ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah keperawatan maritim.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak.Oleh karena itu, perkenankanlah kami mengnucapkan terima kasih.
Kami  menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan kami khususnya.

Kendari , 24 Juni 2020

Penyusun






DAFTAR ISI


Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Tujuan 6
C. Manfaat Penuulisan 6
BAB II 7
TINJAUAN TEORI 7
A. Definisi 7
B. Etiologi 8
C. Klasifikasi 9
D. Patofisiologi 11
E. Menifestasi Klinis 12
F. Pemeriksaan penunjang 14
G. Komplikasi 14
H. Penatalaksanaan 17
BAB III 20
KONSEP KEPERAWATAN 20
A. Pengkajian 20
B. Diagnosa 22
C. Kriteria Hasil 22
D. Intervensi 23
BAB IV 24
ASUHAN KEPERAWATAN 24
A. Kasus 24
B. Pengkajian 24
C. Analisa Data 27
D. Diagnosa Keperawatan 27
E. Intervensi Keperawatan 27
F. Implementasi Dan Evaluasi 30
BAB IV PENUTUP 32
A. Kesimpulan 32
B. Saran 32
DAFTAR PUSTAKA 33





















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Survei World Health Organization (WHO),penderita Diabetes Mellitus tahun 2010 di seluruh dunia sebesar 279,3 juta orang dengan prevalensi 5,1%, jika tidak ada tindakan lanjut untuk penanganan DM, diperkirakan tahun 2020 menjadi 300 juta orang dengan prevalensi 6,0%dan tahun 2030 menjadi 5526 juta orang dengan prevalensi 6,3%. Urutan penderita dengan jumlah tertinggi adalah India, Cina, Amerika Serikat dan Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar di Dunia. Peningkatan jumlah penderita Diabetes Mellitus di Dunia berkaitan dengan jumlah populasi yang meningkat,life expectancy bertambah, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik yang kurang (Mjph & No, 2018)
Jumlah prevalensi penderita Diabetes Mellitus di Indonesia antara kasus baru dan total kasus baru dan lama terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2014 prevalensi sebesar 5,6%yang meningkat tahun 2015 mencapai 5,7%, dan diperkirakan tahun 2030 peningkatan sekitar 3 kali lipat menjadi 16,8% dari jumlah pendudukdan menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita DM di dunia dengan 1/3 jumlah penderita tidak sadar dirinya menderita diabetes. Jumlah DM Tipe II terbanyak diantara tipe-tipe DM lainnya yang terjadi 90-95% populasi DM, di Indonesia DM tipe II mencapai 85-90% dari total DM, untuk itu diperlukan upaya pengendalian, pencegahan dan penanggulangan faktor penyebab DM tipe II (Mjph & No, 2018)
Data Dinas Kesehatan Provinsi SulawesiTenggara mencatat penemuan penderita Diabetes Mellitus pada tahun 2015 sebanyak 1271 orang dengan prevalensi sebesar 1,0%, pada tahun 2016 penderita Diabetes Mellitus sebanyak 2512 orang dengan prevalensi sebesar 1,1%, dan pada tahun 2017 dari 17 wilayah kabupaten/kota meningkat menjadi 3824 orang dengan prevalensi sebesar 1,5%. Tahun 2016Diabetes Mellitus di urutan ke-9 dan padatahun 2017 urutan tersebut bergeser di urutan 5 jenis penyakit tidak menular yang masuk dalam daftar 10 besar penyakit di Sulawesi Tenggara. Hal tersebut menunjukkan meningkatnya jumlah penderita DM (Mjph & No, 2018)
 Data Dinas Kesehatan Kota Kendari dari penderita penyakit Diabetes Mellitus pada tahun 2014 terdapat sebanyak 452 kasus baru dengan prevalensi 1,6%, pada tahun 2015 terdapat sebanyak 602 kasus baru dengan prevalensi 1,7%, dan pada tahun 2016 meningkat sebanyak 873 orang kasus baru dengan prevalensi 1,9%. Tahun 2017 sebanyak 946 orang kasus baru dari 15 Puskesmas di Kota Kendari, lima besar kecamatan dengan prevalensi masih tinggi yaitu di Kecamatan Abeli 21,2%, Lepo-Lepo 18,6%, Nambo 12,6%, Puuwatu 10,0% dan Labibia 7,1% (Mjph & No, 2018)
DM Tipe II, ini jenis yang umum terjadi dan bisa menyerang siapa saja dari segala usia. Tetapi sering terjadi pada usia 40 ke atas. Beberapa faktor yang mempertinggi risiko terjadinya penyakit DM tipe II yaitu aktifitas yang kurang, oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit DM tipe II perlu mendapat perhatian yang serius, jika tidak dampak penyakit ini akan membawa komplikasi pada berbagai penyakit seperti jantung, stroke, tekanan darah tinggi, gagal ginjal dan kerusakan sistem saraf (Kemenkes RI, 2010).
Salah satu faktor risiko penyebab penyakitDM adalah kurangnya olah raga misalnya senam yang dilakukan secara teratur sehingga dapat mengendalikan diabetes, karena sekresi insulin dikontrol oleh mekanisme persyarafan, dengan olahraga insulin berpengaruh pada otot sehingga dapat meningkatkan penyerapan glukosa, asam amino, keton, ion positif, sintesis glikogen dan menurunkan pelepasan asam amino (Mjph & No, 2018)



Tujuan

Mahasiswamengetahui proses terjadinyapenyakitDM
MahasiswamengetahuicaramencegahDM
Mahasiswamampu merumuskanrencanaasuhankeperawatanpadapenyakit DM
Manfaat Penuulisan

Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagi bahan reverensi untuk materi kasus DM.
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang DM sehigga masyarakat dapat mengetahui apa itu DM, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi dan lainnya.
Bagi ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai kasus DM










BAB II
TINJAUAN TEORI

Definisi

Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolit yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikimia) akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (smeltzer dan bare, 2015 ). diabetes melitus merupakan suatu kelimpok penyakit atau gangguan metabolit dengan karakteristik hiperglikimia yang terjadi karna kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua duanya. Hiperglikimia kronik pada diabetes melitus berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf, jatung dan pembulu darah(Yogyakarta, 2018)
DM adalah penyakit metabolik (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif (DM Tipe 2) atau insulin absolut (DM Tipe 1) di dalam tubuh. Pada DM terdapat tanda-tanda hiperglikemi dan glukosuria, dapat disertai dengan atau tidaknya gejala klinik akut seperti poliuri, polidipsi, penurunan berat badan, ataupun gejala kronik seperti gangguan primer pada metabolisme karbohidrat dan sekunder pada metabolisme lemak dan protein .(Mjph & No, 2018)
Penderita DM mengalami gangguan metabolisme dari distribusi gula oleh tubuh sehingga tubuh tidak bisa memproduksi insulin secara efektif, akibatnya terjadi kelebihan glukosa di dalam darah (80-110 mg/dl) yang akan menjadi racun bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan dalam darah tersebut melimpah ke sistem urin (Mjph & No, 2018)


Etiologi
Umumnya diabetes melitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau sebagian besar dari sel sel beta dari pulau pulau langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, akibatnya tejadi kekurangan insulin. Disamping itu diabetes melitus juga dapat terjadi karna gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam sel. Gangguan dapat terjadi karna kegemukan atau sebab lain yang belum di ketahui. (smeltzer dan bare, 2015). Diabetes melitus atau labih dikenal dengan istilah penyakit kencing manis mempunyai beberapa penyebab , antara lain:(Yogyakarta, 2018)
Pola makan 
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh dapat memacu timbulnya diabetes melitus. Kosumsi makananberlebihan dan tidak di imbangi dengan sekresi insulindalam jumlah yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan pasitnya akan menyebabkan diabetes melitus.(Yogyakarta, 2018)
Obesitas(kegemukan) 
Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90kg cenderung memiliki peluang lebih besar untuk trkena penkit diabetes melitus.Sebilan dari sepuluh orang gemuk bepotensi untuk teserang diabets melitus.
Faktor genetis 
Diabetes melitus dapat diariskan orang tua kepada anak. Gan penyebab diabetes melitus akan dibawa oleh anak jika orangtuanya menderita
diabetes nelitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucu cucunya bahkan cicit wa[aupun resikonya sangat kecil.
Bahan-bahan kimia dan obat obatan 
Bahan bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pangkreas, radang pada pangkreas akan mengakibatkan fungsi pankres menurun sehingga tidak ada sekresi hormon hormon untuk pross metabolism tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yangterakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas. 
Penyakit dan infeksi pada pankreas
Infeksi mikro organisme dana virus pada pankreas juga dapatmenyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipedemia dapat meningkatkan resiko terkena diabetes melitus.
Pola Hidup Pola
hidup juga sangat mempengaruhi fakor penyebab diabetes melitus. Jika orang malas berolah raga memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes melitus karena olah raga berfungsi untuk membakar kalori yang tertimbun didalam tubuh, kalori yang tertimbun didalam tubuh merupakan faktor utama penyebab diabetes melitus selain disfungsi pankreas.
Kadar Kortikosteroid YangTinggi. Kehamilan gestasional.
Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.
Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.(Yogyakarta, 2018)

Klasifikasi

Diabetes melitus tipe 1 
Diabetes melitus tipe satu atau Insulin Dependen Diabetes Melitus (IDDM), dapat terjadi disebabkan karena adanya kerusakan sel-B, biasanya menyebabkan kekurangan insulin absolut yang disebabkan oleh proses autoimun atau idiopatik. Umumnya penyakit ini berkembang kearah ketoasidosis diabetik yang menyebabkan
kematian.Diabetes melitus tipe 1 terjadi sebanyak 5-10 % dari semua diabetes melitus. Diabetes melitus tipe 1 dicirikan dengan onset yang akut dan biasanya terjadi pada usia 30 tahun (Yogyakarta, 2018)
Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 atau Non Insulin Dependen Diabetes Melitus (NIDDM), dapat terjadi karena kerusakan progresif sekretorik insulin akibat resistensi insulin. Diabetes melitus tipe 2 juga merupakan salah satu gangguan metabolik dengan kondisi insulin yang diproduksi oleh tubuh tidak cukup jumlahnya akan tetapi reseptor insulin dijaringan tidak berespon terhadap insulin tersebut. Diabetes melitus tipe 2mengenai 90-95 % pasien dengan diabetes melitus. Insidensi terjadi lebih umum pada usia 30 tahun, obesitas, herediter, dan faktor lingkungan. Diabetes melitus tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi (Yogyakarta, 2018)
Diabetes Melitus Tipe Tertentu 
Diabetes melitus tipe ini dapat terjadi karena penyebab lain misalnya, defek genetik pada fungsi sel-B, defek genetik pada kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas (Seperti fibrosis kistik dan pankreatitis), penyakit metabolik endokrin, infeksi, sindrom genetik lain dan karena disebabkan oleh obat atau kimia (seperti dalam pengobatan HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ.
Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes melitus ini merupakan diabetes melitus yang didiagnosis selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa didapati pertama kali pada masa kehamilan.Terjadi pada 2-5% semua wanita hamil tetapi hilang saat melahirkan (Yogyakarta, 2018)





Patofisiologi

DM Tipe 1 ( DMT 1 = Diabetes Mellitus Tergantung Insulin )
DMT 1 merupakan DM yang tergantung insulin. Pada DMT 1 kelainan terletak pada sel beta yang bisa idiopatik atau imunologik. Pankreas tidak mampu mensintesis dan mensekresi insulin dalam kuantitas dan atau kualitas yang cukup, bahkan kadang-kadang tidak ada sekresi insulin sama sekali. Jadi pada kasus ini terdapat kekurangan insulin secara absolut (Tjokroprawiro, 2007).
DMT 1, biasanya terdiagnosa sejak usia kanak-kanak. Pada DMT 1 tubuh penderita hanya sedikit menghasilkan insulin atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin, oleh karena itu untuk bertahan hidup penderita harus mendapat suntikan insulin setiap harinya. DMT1 tanpa pengaturan harian, pada kondisi darurat dapat terjadi 

DM Tipe 2 ( Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin =DMT 2)
DMT 2 adalah DM tidak tergantung insulin. Pada tipe ini, pada awalnya kelainan terletak pada jaringan perifer (resistensi insulin) dan kemudian disusul dengan disfungsi sel beta pankreas (defek sekresi insulin), yaitu sebagai berikut : (Tjokroprawiro, 2007)
Sekresi insulin oleh pankreas mungkin cukup atau kurang, sehingga glukosa yang sudah diabsorbsi masuk ke dalam darah tetapi jumlah insulin yang efektif belum memadai.
Jumlah reseptor di jaringan perifer kurang (antara 20.000-30.000) pada obesitas jumlah reseptor bahkan hanya 20.000.
Kadang-kadang jumlah reseptor cukup, tetapi kualitas reseptor jelek, sehingga kerja insulin tidak efektif (insulin binding atau afinitas atau sensitifitas insulin terganggu).
Terdapat kelainan di pasca reseptor sehingga proses glikolisis intraselluler terganggu.
Adanya kelainan campuran diantara nomor 1,2,3 dan 4.
DM tipe 2 ini Biasanya terjadi di usia dewasa. Kebanyakan orang tidak menyadari telah menderita dibetes tipe 2, walaupun keadaannya sudah menjadi sangat serius. Diabetes tipe 2 sudah menjadi umum di Indonesia, dan angkanya terus bertambah akibat gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan dan malas berolahraga (Riskesdas, 2007)

Menifestasi Klinis

Adanya penyakit diabetes melitus ini pada awalnya sering kalitidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita.Manifestasi klinis diabetes melitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolik defisiensi insulin.Jika hiperglikimianya berat dan melebihi ambang ginjal untuk zat ini, maka timbul glikosurya. Glikosurya ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine (poliuria) jika melewati ambang ginjal untuk ekskresi glukosa, yaitu kurang lebih 180 mg/dl serta timbulnya rasa haus (polidipsia)
Rasa lapar yang semakin besar (polivagia) mungkin akan timbul sebagai akibat kehilangan kalori (Price dan wilson. 2012). Pasien dengan diabetes tipe 1 sering memperlihatkan awitan gejala yang eksplosif dengan polidipsia, kliuria, turunya berat badan, polivagia, lemah, somnolen yangterjadi selama beberapa hari atau beberapa Minggu. Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal kalau tidak mendapatkan pengobatan segra.Tetapi insulin biasanya diperlukan untuk mengontrol metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap insulin. Sebaliknya pasien dengan diabetes tipe 2 mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apa pun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah dilaboratorium dan melakukan tes toleransi glukosa. Gejala dan tanda-tanda diabetes melitus dapat digolongkan menjadi dua, yaitu gejala akut dan gejala kronik (Yogyakarta, 2018)

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukanmeliputi 4 hal yaitu:
1) Postprandial : Dilakukan 2 jam setelah makan atau setelah minum. Angka diatas 130mg/dl mengindikasikan diabetes.
2) Hemoglobin glikosilat: Hb1C adalah sebuah pengukuran untuk menilaikadar guladarah selama 140 hari terakhir. Angka Hb1C yang melebihi 6,1% menunjukkan diabetes.
3) Tes toleransi glukosa oral: Setelah berpuasa semalaman kemudian pasien diberi air dengan 75 grgula, dan akan diuji selama periode 24 jam. Angka gula darah yang normaldua jam setelah meminum cairan tersebut harus < dari 140 mg/dl.
4) Tes glukosa darah dengan finger stick, yaitu jari ditusuk dengan sebuahjarum, sample darah diletakkan pada sebuah strip yang dimasukkan kedalam celah pada mesin glukometer, pemeriksaan ini digunakan hanya untuk memantau kadar glukosa yang dapat dilakukan dirumah

Komplikasi

Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada diabetes melitus tipe 2 akan menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi diabetes melitus tipe 2 terbagi dua berdasarkan nama terjadinya, yaitu : komplikasi akut dan komplikasi kronik 
Komplikasi Akut 
Ketoasidosis diabetik (KAD) KAD merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosadarah yang tinggi (300-600mg/dL), disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap 
Hiperosmolar non ketotik (HNK) 
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600- 1200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat (330-380 mOs/mL), plasmaketon (+/-), anion gap normal atau sedikit meningkat (Yogyakarta, 2018)
Hipoglikemia 
ditandai dengan menurunya kadar glukosa darah mg/dL. Pasien diabetes melitus yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Gejala hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak keringat, gemetar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan kesadaran menurun sampai koma (Yogyakarta, 2018)
Komplikasi Kronik
Komplikasi jangka panjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien
diabetes melitus saat ini sejaan dengan penderita diabetes melitus yang bertahan hidup lebih lama. Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya komplikasi kronik. Kategori umum komplikasi jangka panjang terdiridari : 


Komplikasi makrovaskular
 Komplikasi makrovaskular pada diabetes melitus terjadi akibat akteros leorosis dari pembulu-pembulu darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plat ateroma.Makroangiopati tidak spesifik pada diabetes mellitus namun dapat timbul lebih cepat, lebih sering terjadi dan lebihserius.Berbagai studi epidemiologis menunjukan bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan penderita diabetes mellitus meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada hubungan dengan control kadar gula darah yang baik. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa hiperinsulinemia merupakan suatu factor resiko mortalitaskardiovaskular dimana peninggian kadar insulin dapat menyebabkan terjadinya resiko kardiovaskular menjadi semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL akan meningkatkan resiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar antara lain adalah pembulu darah jantung atau penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak atau strok, dan penyakit pembuluh darah.
Komplikasi Mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan neprovati diabetik.Retinopati diabetic dibagi dalam dua kelompok, yaitu retinopati non-proliveratif dan retinopati pro-liveratif.Retinopati non-proliveratif merupakan stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneorisma, sedangkan retinopati pro-liveratif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler, jaringan ikat dan adanyahipoksiaretina.Seterusnya, neprovati diabetik adalah gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Nefrovati diabetic ditandai dengan adanya proteinuria persisten (>0,5 gr/24 jam), terdapat retinopati dan hipertensi. Kerusakan ginjal yang spesifik pada diabetes mellitus mengakibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul-molekul besar seperti protein dapat masuk kedalam kemih (albuminoria).(Yogyakarta, 2018)
Neuropati
Diabtes neurovatik adalah kerusakan saraf sebagai komplikasi serius akibat diabetes mellitus.Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati terifer, berupa hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki terlebih dahulu, lalu kebagian tangan.Neuropati beresiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi.Gejala yang sering dirasakan adalah kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit dimalam hari.Setelah diagnosis diabetes mellitus ditegakan, padasetiap pasien perlu dilakukan skrining untukmendeteksi adanya polineuropatidistal. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki yang memadai akan menurunkan resiko amputasi. Semua penyandang diabetes mellitus yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi resiko ulkus kaki(Yogyakarta, 2018)
Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkankualitas hidup penderita diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :
Tujuan Jangka Pendek : menghilangkan keluhan diabetes mellitus, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi resiko komplikasi akut.
Tujuan Jangka Panjang : mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati.
Tujuan akhir pengelolaan adalah turunya morbiditas dan mortalitas diabetes mellitus. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lifid (mengukur kadar lemak dalam darah), melalui pengelolaan pasien secra komprehensif. Pada dasarnya, pengelolaan diabetes mellitus dimulaidengan pengaturan makan disertai dengan latihan jasmani yang cukup selama beberapa waktu (2-4 Minggu). Bila setelah itu kadar glukosa darah masih belum dapat memenuhi kadar sasaran metabolikyang diinginkan, baru dilakukan intervensi farmakologik dengan obat-obat anti diabetes oral atau suntikan insulin sesuai dengan indikasi. Dalam keadaan dekomvensasi metabolic berat, misalya ketoasidosis, diabetes mellitus dengan stress berat, berat badan yang menurun dengan cepat, insulin dapat segra diberikan. Pada keadaan tertentu obat-obat anti diabetes juga dapat digunakan sesuai dengan indikasi dan dosis menurut petunjuk dokter. Pemantauan kadar glukosa darah bila dimungkinkan dapat dilakukan sendiri dirumah, setalah mendapat pelatihan khusus untuk itu (PERKENI. 2015). Menurut Smeltzer dan Bare (2015), tujuan utama penatalaksanaan terapi pada diabetes mellitus adalah menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah. Sedangkan tujuan jangkapanjangnya adalah untuk menghindari terjadinyakomplikasi.(Yogyakarta, 2018)
















BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

Pengkajian

Identitasklien, meliputi:Namapasien, tanggallahir,umur, agama, jeniskelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, No rekammedis.
Riwayat Kesehatan 
Keluhan Utama : nyeri pada pinggul, lemah, letih, kesulitan bergerak, tidak nyaman, mata kabur, kram otot
Riwayat Kesehatan Sekarang :Saat dikaji didapatkan pasien dengan diagnosa Diabetes mellitus.
 Riwayat kesehatan masa lalu :tidak pernah mengalami sakit yang berat, atau kronis, trauma, tidak ada perawatan di rumah sakit, tidak ada riwayat operasi.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Dikaji untuk mengetahui adanya penyakit menurun dalam keluarga seperti asma, diabetes melitus, hipertensi, jantung dan riwayat penyakit menular lainya
Pemeriksaan Fisik heat to to
Kepala
Untuk daerah kepala, mata, hidung, telinga dan heler melakukan pemeriksaan dengan metode Inspeksi dan Palpasi ; saat Inspeksi terlihat bentuk kepala, warna rambut, terdapat lesi, ketombe pada rambut dan kebersihan kepala; pada mata bentuk mata, kesimetrisan mata kiri dan kanan, konjungtiva; bentuk telinga kiri dan kanan, kelainan pada telinga. kelainan hidung, adanya mimisan, kotor atau bersih; adanya kelainan pada leher, adanya lesi, edema,kemerahan dan palpasi apakah ada pembersaran kelenjar tiroid, dan JVP; sedangka saat dilakukan palpasi untuk mengetahui apakah terdapat nodul; apakah terjadi edema atau pembengkakan pada mata.apakah ada nyeri tekan dan adanya kotoran di daerah telinga; di daerah sinus hidung apakah terjadi nyeri tekan; dan pengukuran vena jugulari pada leher. (No Title, 2019)

Dada : 
Inspeksi : bentuk dada normal diameter anterior posterior- transversal 1:2, ekspansi simetris, sifat pernapasan dada dan perut, frekuensi pernapasan 22x/menit, ritme pernapasan eupnea,tidak ada retraksi dinding dada. Palpasi : tidak ada nyeri tekan, ekspansi dada simetrisi, Perkusi : suara perkusi sonor batas organ sisi dada kiri dari atas ke bawah ditemukan sonor/resonan-tympani: ICS 7/8 (paru-paru dan lambung), pada sisi dada kanan ICS 4/5 (paru dan hati), dinding posterior: supraskapula (3-4 jari dipundak), Askultasi: suara nafas vesikuler terdengar disemua lapang paru normal, bersifat halus, inspirasiinspirasi lebih panjang dari ekspirasi.(No Title, 2019)
Sistem Kardiovaskuler 
Jantung: Inspeksi: tampak denyut nadi daerah apeks, Palpasi : apeks teraba pada interkosta V, apeks segaris dengan midclavicula kiri, Perkusi Batas jantung: batas atas pada ics III, batas bawah ICS V, batas kiri pada midclavicularis atau 4 jari dari midsternum, batas kanan sejajar sejajar sisi sternum kanan, Auskultasi : S1 terdengar bunyi lub pada ruang ICS V seblah kiri sternum diatas apeks, S2 terdengar bunyi dub pada ICS II seblah kanan sternum.
Gastrointestinal/Abdomen Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi kelainan, adanya lesi. Sedangkan palpasi dilakuakan dengan palpasi ringan atau palpasidalam tergantung tujuan untuk mengetahui bentuk, ukuran, dan konsistensi organ-organ dan struktur-struktur dalam perut, palpasi ringan dilakuakan untuk mengetahui area-area nyeri tekan dan adanya massa, palpasi dalam dilakukan untuk mengetahui keadaan hepar, lien, ginjal, dan kandung kemih. Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus, kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas, ginjal.
Extremitas 
ispeksi bentuk ekstremitas apakah ada kelainan bentuk, adanya lesi, edema, dan kemerahan. Palpasi apakah ada nodul dan nyeri tekan pada daerah ekstremitas atas dan bawah

Diagnosa

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut.Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien DM adalah sebagai berikut 

Nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular selebral.Kode (D.0074)
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.Kode(D.0056)
Kriteria Hasil

Nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular selebral.Kode (D.0074)
klien melaporkan nyeri berkurang
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.Kode (D.0056)
klien dapat melakukan aktivitas ringan.
Intervensi

Nyeri atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular selebral.Manajemen nyeri : Kode : 00132
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan itensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (missal hypnosis, akupresur, terapi music, terapi pijat, aromaterapi)
Fasilitasi istrahat dan tidur
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Terapi aktifitas :Kode (1.05186)
Identifikasi deficit tingkat aktivitas
Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
Fasilitasi focus pada kemampuan, bukan deficit yang dialami
Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih



BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang  pasien bernama Tn. A50thn merasa lemas sekujur tubuhnya dan merasa gatal pada kakinya kemudian digaruk dan menjadi luka yang tidak sembuh-sembuh,serta susah melakukan aktivitas dan merasa nyeri pada bagian luka Kemudian pasien tersebut kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya  dan dokter tersebut mengatakan pasien terkena Diabetes melitus (DM)
Pengkajian

Identitas Pasien
Nama                                  : Tn. A
Jenis Kelamin                    :  Laki-laki
Umur                                 :  50 Tahun
Agama                               :  Islam
Pendidikan                         :  SMA
Alamat                               : Kendari
Diagnosa Keperawatan     :  DM
Penanggung Jawab
Nama                                 : Tn.M
Hubungan dengan Pasien   : Saudara
Pekerjaan                           :  PNS
Umur                                 :  35Tahun
Alamat                              :  Bungkutoko
Riwayat Kesehatan 
Keluhan Utama
Pasien datang kerumah sakit, merasa lemas sekujur tubuhnya dan merasa gatal pada kakinya kemudian digaruk dan menjadi luka yang tidak sembuh-sembuh,serta susah melakukan aktivitas dan merasa nyeri pada bagian luka

b.Riwayat Kesehatan Sekarang
kepala pusing, mual, nyeri dan merasa gatal pada luka, pasien mengatakan sulit beraktivitas.
Tanda-Tanda Vital
TD       :  190/100 mmHg
N         :  90 x/i
R       :  22 x/i
S         :  350c
Pengkajian Fisik
Kepala
Bentuk kepala bulat, rambut hitam lurus kulit kepala bersih tidak terdapat ketombe
Penglihatan
Baik, tidak ada ikterus, konjungtiva tidak anemis pupil isokor dan slekta baik tidak dijumpai
Penciuman
Bentuk dan posisi, anatomis tidak dijumpai kelainan dapat membedakan bau-bauan
Pendengaran
Pendengaran baik serumen ada dalam batas normal tidak ada dijumpai adanya peradangan dan pendarahan
Mulut
Tidak ada masalah pada rongga mulut, gigi bersih, tidak ada pendarahan maupun peradangan
Pernafasan
Tidak ada masalah pada frekuensi dan irama pernafasan
Jantung
Frekwensi denyut jantung dibawah normal 100x/i, bunyi jantung berirama, tidak adanya dijumpai nyeri pada dada
Abdomen
Pada abdomen tidak dijumpai kelainan begitu juga pada palpasi hepar
Ekstremilasi
pasien mengatakan susah menggerakkan kedua kakinya dan pasien sulit beraktivitas, semua aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat

Pola Aktivitas
Pada aktivitas sebagai kepala rumah tangga yang tiap waktu sedikit dirumah dan jumlah jam kerja yang tiada henti, istirahat yang hanya sebentar adanya hospitalisasi suasana dirumah sakit tidak terlaksana optimal karena badrest
Personal Hygine
Sebelum masuk Rumah Sakit pasien  mandi 3 x sehari, cuci rambut 2 hari sekali kulit kepala bersih, sikat gigi 2 x sehari









Analisa Data
1.Nama:Tn.A
2.Diagnosa :DM
3.Umur :50 thn
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH

1
DS: pasien  mengeluh nyeri pada lukanya

 DO: TD       :  190/100 mmHg
N         :  90 x/i
R       :  22 x/i
S         :  350c

Nyeri
Nyeri akut b/d agen cedera biologis








2
DS : merasa gatal pada kakinya

DO : -susah melakukan aktivitas
         -sulit tidur
Kerusakan jaringan kulit
Kerusakan Integritas Kulit b/d Gangguan sensasi 




Diagnosa Keperawatan

Nyeri akut b/d agen cedera biologis kode: 00132
Kerusakan Integritas Kulit b/d Gangguan sensasi kode: 00046


Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan&KriteriaHasil
(NOC)
Intervensi (NIC)

1
Kode : 00132
Domain : 12  Kenyamanan
Kelas : 1 Kenyamanan Fisik

Nyeri akut b/d agen cedera biologis.

DS: pasien  mengeluh nyeri pada lukanya

 DO: TD       :  120/100 mmHg
N         :  90 x/i
R       :  22 x/i
S         :  350c



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24  jam/menit :

Tingkat Ketidaknyamanan(2109)

(skala 1 :berat, 2 : cukup berat, 3 : sedang, 4 : ringan, 5 : tidak ada), dengan kriteria:
a.(210901) Nyeri (skala 2 menjadi 4)
b.(210902) Cemas (skala 2 menjadi 5)
c.(200918) meringis (skala 2 menjadi 




Manajemen Nyeri  (1400)

1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi yang meliputi lokasi,karakteristik,onset/durasi,frekuensi/
Beratnya nyeri dan faktor pencetus.
2.Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri.
3. Berikan informasi mengenai nyeri,seperti penyebab nyeri,berapa lama nyeri dirasakan,dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat produksi
4. Dorong pasien untuk monitor nyeri dan menanganinya dengan tepat.
5. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunana nyeri.



2.
Kode :00046
Domain : 11 Keamana / Perlindungan 
Kelas : 2 Cedera fisik

Kerusakan integritas kulit b/d gangguan sensasi

DS : merasa gatal pada kakinya

DO : -susah melakukan aktivitas
         -sulit tidur



Integritas jaringan : Kulit & Memberan Mukosa (1101)

a.(110102) Sensasi (Skala 2 menjadi 5)
b.(110104) Hidrasi (Skala 2 menjadi 5)
c.(110106) Keringat (Skala 2 menjadi 5)
d.(111013) Integritas Kulit (Skala 2   menjadi 5 )

Perawatan kaki : (1660)

1.Periksa kulit untuk mengetahui adanya iritasi,retak,lesi,ketimumul,kapalan, kecacatan,atau edema.
2. Berikan rendaman kaki, jika di perlukan
3. Anjurkan pasien/keluarga mengenai pentingnya perawatan kaki.
4. Monitor edema pada kaki dan tungkai kaki 
5. Diskusikan pada pasienmengenai perawatan rutin kaki.


F. Implementasi Dan Evaluasi

Diagnosa keperawatan
Implementasi
Evaluasi



Jam

Tanggal : 10 juni 2020
Tanggal : 13 juni 2020
Jam : 06.30

Kode (00132)
Domain:12 kenyamanan  
Kelas : 1 Kenyamanan Fisik

Nyeri akut b/d agen cedera biologis.

07.00
1. melakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi yang meliputi lokasi,karakteristik,onset/durasi,frekuensi/
Beratnya nyeri dan faktor pencetus.
2.mengali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri.
3. memberikan informasi mengenai nyeri,seperti penyebab nyeri,berapa lama nyeri dirasakan,dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat produksi
4. mendorong pasien untuk monitor nyeri dan menanganinya dengan tepat.
5. mendukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunana nyeri.

S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang 
O :  : TD       :  120/100 mmHg
N         :  90 x/i
R       :  22 x/i
S         :  350c


Kode:D.00046
Domain : 11 Keamana / Perlindungan 
Kelas : 2 Cedera fisik

Kerusakan integritas kulit b/d gangguan sensasi


1.memeriksa kulit untuk mengetahui adanya iritasi,retak,lesi,ketimumul,kapalan, kecacatan,atau edema.
2. memberikan rendaman kaki, jika di perlukan
3. menganjurkan pasien/keluarga mengenai pentingnya perawatan kaki.
4. memonitor edema pada kaki dan tungkai kaki 
5. mendiskusikan pada pasienmengenai perawatan rutin kaki.
S :klien mengatakan gatal pada kakinya berkurang
O : pasien Nampak sedikit membaik
A : Masalah teratasi 









NO
                    DIAGNOSA
                           EVALUASI

 1.
Kode (00132)
Domain:12 kenyamanan  
Kelas : 1 Kenyamanan Fisik

Nyeri akut b/d agen cedera biologis.

S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang 
O :  : TD       :  120/100 mmHg
N         :  90 x/i
R       :  22 x/i
S         :  350c
A : Masalah belum teratasi 
P : pasien pulang intervensi dihentikan


 2.
Kode:D.00046
Domain : 11 Keamana / Perlindungan 
Kelas : 2 Cedera fisik

Kerusakan integritas kulit b/d gangguan sensasi

S :klien mengatakan gatal pada kakinya berkurang
O : pasien Nampak sedikit membaik
A : Masalah teratasi 
P : pasien pulang intervensi dihentikan



BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Diabetes Militusmerupakan penyakit metabolik (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif (DM Tipe 2) atau insulin absolut (DM Tipe 1) di dalam tubuh. Pada DM terdapat tanda-tanda hiperglikemi dan glukosuria, dapat disertai dengan atau tidaknya gejala klinik akut seperti poliuri, polidipsi, penurunan berat badan, ataupun gejala kronik seperti gangguan primer pada metabolisme karbohidrat dan sekunder pada metabolisme lemak dan protein .(Mjph & No, 2018)
Saran
Agar pembaca makalah ini mahasiswa/pembacanya dapat memahami dan mengetahui asuhan keperawatan diebetes Militus pada lansia











DAFTAR PUSTAKA

Mjph, J., & No, V. (2018). Jurnal MJPH, Vol 1 No. 2, Desember 2018. 1(2), 1–13.
No Title. (2019).
Yogyakarta, U. K. (2018). Karya tulis ilmiah.
Yogyakarta, U. K. (2018). Karya tulis ilmiah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. SPADA TAHAP PERKEMBANGAN AGING FAMILY MEMBER ( Hipertensi)

ASUHAN KEPERAWANTAN KELUARGA TN. SDENGAN MASALAH KESEHATANGAGAL GINJAL KRONIK PADA TN.S