ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. SPADA TAHAP PERKEMBANGAN AGING FAMILY MEMBER ( Hipertensi)

Tugas Makalah
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. S
PADA TAHAP PERKEMBANGAN 
AGING FAMILY MEMBER ( Hipertensi)


OLEH:

NURFITA
S.0017.P.029



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
 KENDARI 
2021

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat  rahmat-Nya  kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar  kita semua Nabi Muhammad SAW.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi  bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.



Kendari, 15 februari 2021

Nurfita 












DAFTAR ISI




















BAB I 
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan manusia yang dianggap sebagai seseorang yang mengalami berbagai penurunan fungsi kehidupannya. Proses menua didalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu peristiwa yang akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang dan berlangsung secara terus menerus(1). 
Selain perubahan kemunduran fisik dan mental, lansia juga cenderung berkonsentrasi pada masalah kematian. Semakin lanjut usia seseorang, biasanya individu menjadi lebih mementingkan tentang kematian itu sendiri dan kematian diri sendiri. Pemikiran tentang kematian merupakan bagian yang penting pada tahap akhir kehidupan bagi banyak individu dalam proses menjelang ajal(2)
Di Indonesia data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi hipertensi dari 5,7% tahun 2007 menjadi 6,9% atau sekitar 9,1 juta pada tahun 2013. Data Sample Registration Survey tahun 2014 menunjukkan bahwa hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan prosentasi sebesar 6,7% setelah stroke dan penyakit jantung. Pelayanan kesehatan pada penyakit hipertensi di tingkat keluarga dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Asuhan keperawatan yang diberikan kepada keluarga meliputi pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi keperawatan yang bertujuan agar pelayanan kesehatan yang dilaksanakan bisa efektif dan komprehensif. Semua pelayanan itu diterapkan pada semua tatanan puskesmas (Koes Irianto, 2014).
Berdasarkan catatan dan laporan dari Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas Mergangsan Kota Yogyakarta yang pelayanannya mencakup beberapa kelurahan menunjukkan bahwa hipertensi masuk dalam daftar 10 besar penyakit terbanyak urutan nomor satu tahun 2017. Pada tahun 2017 didapatkan data total penderita hipertensi sejumlah 3.453 orang yang 3 semuanya adalah hipertensi dan pada tahun 2018 dari bulan Januari sampai Juni terdapat 1.775 kunjungan dengan diagnosa hipertensi. Untuk itulah perlu dilakukan upaya pelayanan kesehatan keluarga dengan hipertensi yang salah satunya adalah keluarga Tn. R. 
Tujuan
Mahasiswa mengetahui perkembagan keluarga pada tahap keluarga menua
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada pada tahap perkembangan keluara menua
Manfaat 
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi tahap perkembahan keluarga menua
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang masalah kesehata pada keluara menua








BAB II
TINJAUAN TEORI
Konsep Keluarga
Definisi Keluarga 
    Keluarga merupakan perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain (Mubarak, 2011). Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Setiadi, 2012). 
     Sedangkan menurut Friedman keluarga adalah unit dari masyarakat dan merupakan lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat, hubungan yang erat antara anggotanya dengan keluarga sangat menonjol sehingga keluarga sebagai lembaga atau unit layanan perlu di perhitungkan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga yaitu sebuah ikatan (perkawinan atau kesepakatan), hubungan (darah ataupun adopsi), tinggal dalam satu atap yang selalu berinteraksi serta saling ketergantungan.
Fungsi Keluarga 
Keluarga mempunyai 5 fungsi yaitu : 
Fungsi Afektif 
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah (Friedman, M.M et al., 2010) : 
Saling mengasuh yaitu memberikan cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga. 
Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim positif maka fungsi afektif akan tercapai. 
Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga di mulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. 
Fungsi Sosialisasi 
Sosialisasi di mulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu dan orang-orang yang ada disekitarnya. Dalam hal ini keluarga dapat Membina hubungan 7 sosial pada anak, Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dan Menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
Fungsi Reproduksi Fungsi reproduksi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah meneruskan keturunan.
Fungsi Ekonomi Merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal.
Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga juga berperan untuk melaksanakan praktik asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah gangguan kesehatan atau merawat anggota keluarga yang sakit.
Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga Berdasarkan konsep Duvall dan Miller, tahapan perkembangan keluarga dibagi menjadi 8 :
Keluarga Baru (Berganning Family) Pasangan baru nikah yang belum mempunyai anak. Tugas perkembangan keluarga dalam tahap ini antara lain yaitu membina hubungan intim yang memuaskan, menetapkan tujuan bersama, membina hubungan dengan keluarga lain, mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB, persiapan menjadi orangtua dan memahami prenatal care (pengertian kehamilan, persalinan dan menjadi orangtua).
Keluarga dengan anak pertama < 30bln (child bearing) Masa ini merupakan transisi menjadi orangtua yang akan menimbulkan krisis keluarga. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain yaitu adaptasi perubahan anggota keluarga, mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan, membagi peran dan tanggung jawab, bimbingan orangtua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, serta konseling KB post partum 6 minggu. 
Keluarga dengan anak pra sekolah Tugas perkembangan dalam tahap ini adalah menyesuaikan kebutuhan pada anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh kembang, 9 proses belajar dan kontak sosial) dan merencanakan kelahiran berikutnya. 
Keluarga dengan anak sekolah (6-13 tahun) Keluarga dengan anak sekolah mempunyai tugas perkembangan keluarga seperti membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual, dan menyediakan aktifitas anak.
Keluarga dengan anak remaja (13-20 tahun) Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah pengembangan terhadap remaja, memelihara komunikasi terbuka, mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.
Keluarga dengan anak dewasa Tugas perkembangan keluarga mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya, menata kembali fasilitas dan sumber yang ada dalam keluarganya.
Keluarga usia pertengahan (middle age family) Tugas perkembangan keluarga pada saat ini yaitu mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah minat sosial, dan waktu santai, memulihkan hubungan antara generasi muda-tua, serta persiapan masa tua.
Keluarga lanjut usia Dalam perkembangan ini keluarga memiliki tugas seperti penyesuaian tahap masa pensiun dengan cara merubah cara hidup, menerima kematian pasangan, dan mempersiapkan kematian, serta melakukan life review masa lalu.
Tugas keluarga dalam bidang kesehatan adalah sebagai berikut : a. 
Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan
Keluarga mampu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan
Keluarga mampu melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit 
Keluarga mampu menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan
Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat
Dilingkungansetempat.
Hipertensi 
Definisi Hipertensi 
Hipertensi merupakan suatu keadaan yang menyebabkan tekanan darah tinggi secara terus-menerus dimana tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg, tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih. Hipertensi atau penyakit darah tinggi merupakan suatu keadaan peredaran darah meningkat secara kronis. Hal ini terjadi karena jantung bekerja lebih cepat memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi di dalam tubuh (Koes Irianto, 2014). 
Hipertensi juga merupakan faktor utama terjadinya gangguan kardiovaskular. Apabila tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan gagal ginjal, stroke, dimensia, gagal jantung, infark miokard, gangguan penglihatan dan hipertensi (Andrian Patica N 
Jenis Hipertensi 
Hipertensi dapat didiagnosa sebagai penyakit yang berdiri sendiri tetapi sering dijumpai dengan penyakit lain, misalnya arterioskeloris, obesitas, dan diabetes militus. 
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu (WHO, 2014) : 
Hipertensi esensial atau hipertensi primer 
Sebanyak 90-95 persen kasus hipertensi yang terjadi tidak diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Para pakar menemukan hubungan antara riwayat keluarga penderita hipertensi (genetik) dengan resiko menderita penyakit ini. Selain itu juga para pakar menunjukan stres sebagai tertuduh utama, dan faktor lain yang mempengaruhinya. Faktor-faktor lain yang dapat dimasukkan dalam penyebab hipertensi jenis ini adalah lingkungan, kelainan metabolisme, intra seluler, dan faktor-faktor ynag meningkatkan resikonya seperti obesitas, merokok, konsumsi alkohol, dan kelainan darah.
Hipertensi renal atau hipertensi sekunder 
Pada 5-10 persen kasus sisanya, penyebab khususnya sudah diketahui, yaitu gangguan hormonal, penyakit diabetes, jantung, ginjal, penyakit pembuluh darah atau berhubungan dengan kehamilan. Kasus yang sering terjadi adalah karena tumor kelenjar adrenal. Garam dapur akan memperburuk resiko hipertensi tetapi bukanfaktorpenyebab.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi
Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol : 
Jenis kelamin 
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria dengan wanita. Wanita diketahui mempunyai tekanan darah lebih rendah dibandingkan pria ketika berusia 20-30 tahun. Tetapi akan mudah menyerang pada wanita ketika berumur 55 tahun, 13 sekitar 60% menderita hipertensi berpengaruh pada wanita. Hal ini dikaitkan dengan perubahan hormon pada wanita setelah menopause (Endang Triyanto, 2014).
Umur 
Perubahan tekanan darah pada seseorang secara stabil akan berubah di usia 20-40 tahun. Setelah itu akan cenderung lebih meningkat secara cepat. Sehingga, semakin bertambah usia seseorang maka tekanan darah semakin meningkat. Jadi seorang lansia cenderung mempunyai tekanan darah lebih tinggi dibandingkan diusia muda (Endang Triyanto, 2014).
Keturunan (genetik) 
Adanya faktor genetik tentu akan berpengaruh terhadap keluarga yang telah menderita hipertensi sebelumnya. Hal ini terjadi adanya peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium individu sehingga pada orang tua cenderung beresiko lebih tinggi menderita hipertensi dua kali lebih besar dibandingan dengan orang yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi (Buckman, 2010).
Pendidikan 
Tingkat pendidikan secara tidak langsung mempengaruhi tekanan darah. Tingginya resiko hipertensi pada pendidikan yang rendah, kemungkinan kurangnya pengetahuan dalam 14 menerima informasi oleh petugas kesehatan sehingga berdampak pada perilaku atau pola hidup sehat (Armilawaty, Amalia H, Amirudin R., 2007).
Faktor resiko hipertensi yang dapat dikonrol
Obesitas 
Pada usia pertengahan dan usia lanjut, cenderung kurangnya melakukan aktivitas sehingga asupan kalori mengimbangi kebutuhan energi, sehingga akan terjadi peningkatan berat badan atau obesitas dan akan memperburuk kondisi (Anggara, F.H.D., & N. Prayitno, 2013).
Kurang olahraga 
Jika melakukan olahraga dengan teratur akan mudah untuk mengurangi peningkatan tekanan darah tinggi yang akan menurunkan tahanan perifer, sehigga melatih otot jantung untuk terbiasa melakuakn pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu.
Kebiasaan merokok 
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini dikarenakan di dalam kandungan nikotik yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
Konsumsi garam berlebihan 
WHO merekomendasikan konsumsi garam yang dapat mengurangi peningkatan hipertensi. Kadar sodium yang 15 direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram) (H. Hadi Martono Kris Pranaka, 2014-2015).
Minum alkohol Ketika mengonsumsi alkohol secara berlebihan akan menyebabkan peningkatan tekanan darah yang tergolong parah karena dapat menyebabkan darah di otak tersumbat dan menyebabkan stroke.
Minum kopi Satu cangkir kopi mengandung kafein 75-200 mg, dimana dalam satu cangkir kopi dapat meningkatakan tekanan darah 5- 10 mmHg.
Kecemasan 
Kecemasan akan menimbulkan stimulus simpatis yang akan meningkatkan frekuensi jantung, curah jantung dan resistensi vaskuler, efek samping ini akan meningkatkan tekanan darah. Kecemasan atau stress meningkatkan tekanan darah sebesar 30 mmHg. 
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN HIPERTENSI
Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam praktek keperawatan yang diberikan pada klien sebagai anggota keluarga pada tatanan komunitas dengan menggunakan proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan (WHO, 2014).
Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, yaitu sebagai berikut (Heniwati, 2008) :
Pengkajian 
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan, agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga. Sumber informasi dari tahapan pengkaajian dapat menggunakan metode wawancara keluarga, observasi fasilitas rumah, pemeriksaan fisik pada anggota keluarga dan data sekunder. Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :
Data Umum Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi : 
Nama kepala keluarga
Alamat dan telepon
Pekerjaan kepala keluarga
Pendidikan kepala keluarga
Komposisi keluarga dan genogram
Tipe keluarga
Suku bangsa
Agama
Status sosial ekonomi keluarga
Aktifitas rekreasi keluarga
Riwayat dan tahap perkembangan keluarga meliputi :
Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti.
Tahap keluarga yang belum terpenuhi yaitu menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
Riwayat keluarga inti yaitu menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit, sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta pengalamanpengalaman terhadap pelayanan kesehatan. 
Riwayat keluarga sebelumnya yaitu dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri. 
Pengkajian Lingkungan 
Karakteristik rumah
Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat 
Sistem pendukung keluarga
Struktur keluarga
Pola komunikasi keluarga yaitu menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.
Struktur kekuatan keluarga yaitu kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku.
Struktur peran yaitu menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal.
Nilai atau norma keluarga yaitu menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengaan kesehatan.
Fungsi keluarga :
Fungsi afèktif, yaitu perlu dikaji gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lain, bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
Fungsi sosialisai, yaitu perlu mengkaji bagaimana berinteraksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.
Fungsi perawatan kesehatan, yaitu meenjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlu dukungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauh mana pengetahuan keluarga mengenal sehat sakit. Kesanggupan keluarga dalam melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga, yaitu mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan kesehatan pada anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.
Pemenuhan tugas keluarga. Hal yang perlu dikaji adalah sejauh mana kemampuan keluarga dalam mengenal, mengambil keputusan dalam tindakan, merawat anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
Stres dan koping keluarga 
Stressor jaangka pendek dan panjangStressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 5 bulan.Stressorr jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor 
Strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
Strategi adaptasi fungsional yang divunakan bila menghadapi permasalah
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggotaa keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik. Harapan keluarga yang dilakukan pada akhir pengkajian, menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul Dari pengkajian asuhan keperawatan keluarga di atas maka diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul adalah :
Manajemen keluarga tidak efektif, yaitu pola penanganan masalah kesehatan dalam keluarga tidak memuaskan untuk memulihkan kondisi kesehatan anggota keluarga.
Manajemen kesehatan tidak efektif, yaitu pola pengaturan dan pengintegrasian penanganan masalah kesehatan ke dalam kebiasaan hidup sehari-hari tidak memuaskan untuk mencapai status kesehatan yang diharapkan.
Pemeliharaan kesehatan tidak efektif, yaitu ketidakmampuan mengidentifikasi, mengelola dan atau menemukan bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Kesiapan peningkatan koping keluarga yaitu pola adaptasi anggota keluarga dalam mengatasi situasi yang dialami klien secara efektif dan menunjukkan keinginan serta kesiapan untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan klien.
Penurunan koping keluarga yaitu ketidakefektifan dukungan, rasa nyaman, bantuan dan motivasi orang terdekat (anggota keluarga atau orang berarti) yang dibutuhkan klien untuk mengelola atau mengatasi masalah kesehatan.
Membuat Perencanaan 
Menurut Suprajitno perencanaan keperawatan mencakup tujuan umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab. Selanjutnya merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi pada kriteria dan standar. Perencanaan yang dapat dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi ini adalah sebagai berikut : 
Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah hipertensi yang terjadi pada keluarga. 
Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengenal dan mengerti tentang penyakit hipertensi.
Tujuan : Keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi setelah tiga kali kunjungan rumah. 
Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit hipertensi. 
Standar : Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala penyakit hipertensi serta pencegahan dan pengobatan penyakit hipertensi secara lisan. 
Intervensi : 
1) Jelaskan arti penyakit hipertensi 
2) Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit hipertensi 
3)Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan. 
Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit hipertensi. 
Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui akibat lebih lanjut dari penyakit hipertensi. 
Tujuan : Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan hipertensi setelah tiga kali kunjungan rumah.
Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat mengambil tindakan yang tepat dalam merawat anggota keluarga yang sakit. 
Standar : Keluarga dapat menjelaskan dengan benar bagaimana akibat hipertensi dan dapat mengambil keputusan yang tepat.
Intervensi:
Diskusikan tentang akibat penyakit hipertensi
Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi. 
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan hipertensi 
Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
Tujuan : Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita hipertensisetelah tiga kali kunjungan rumah. 
Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan dan perawatan penyakit hipertensi Standar : Keluarga dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi secara tepat. 
BAB III
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Keluarga
Data Umum & Kondisi Kesehatan Keluarga
Puskesmas
:
Abeli 
Alamat 
:
Abeli 
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Sabtu, 18 Januari

Nama KK 
:
Tn. S
Usia
:  
50 tahun




Pendidikan
:
Strata 1
Pekerjaan
:
Pns 





Komposisi Keluarga                 : 
No
Nama                                                                                                      Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi

1.
Tn. S
Kepala keluarga
L
50
Tamat SMA 
Islam
Bugis 
PNS
Lengkap
Tidak ada
Tidak ada
sehat
Tidak ada

2.
Ny. N
Ibu rumah tangga
P
49
Tamat SMA sederajat
Islam

Bugis 
IRT
Lengkap
Tidak ada

Tidak ada
sehat
Tidak ada

3.
Tn. A 
Anak
L
21
Tamat SMA Sederajat
Islam
Bugis
Tidak/belum bekerja
Lengkap
Tidak ada
Tidak ada
sehat
Tidak ada



Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan

Jarak

Cara tempuh

Puskesmas
:
500 m

Motor roda 2



Posyandu
:
300 m

Motor roda 2




Tipe Keluarga
Keluarga inti
Pengkajian Individu
No
Data
Tn. S
Ny. N 
Tn. A 


Keadaan umum :
Compos mentis
Compos mentis
Compos mentis


Penampilan
Baik
Baik
Baik


BB
60 Kg
50 Kg
50 Kg


TB
170 cm
150 cm
165 cm


Status Gizi
baik (Berat badan kurang berdasarkan IMT)
kurang(Berat badan ideal berdasarkan IMT)
Baik (Berat badan ideal berdasarkan IMT)


Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan sekarang
Tidak ada
Hiperensi 
Tidak ada


Masalah kesehatan yang lalu
Tidak ada
Tidak ada 
Tidak ada


Masalah kesehatan keluarga (turunan) 
asam urat 
Tidak ada
Tidak ada 








TTV :





Tekanan darah
120 MmHg
120 MmHg
110 MmHg


Nadi
80 X/menit
78X/menit
84X/Menit


Respirasi
18X/menit
18X/menit
22X/Menit


Suhu
36,60C
36,90C
37,00C


CRT
< 2 detik
< 2 detik
< 2 detik


Mata :





Sclera
putih
Putih 
Putih


Konjungtiva
Pink 
Pink 
Pink



Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik


Telinga :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 


Hidung :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 


Mulut :





Gigi
Baik
Baik
Baik


Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik


Kelembaban
Baik
Baik
Baik


Leher :





Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan


Dada :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Suara paru
Resonan
Resonan 
Resonan


Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit


Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2


Abdomen :





Bentuk
Normal 
Normal
Normal 


Nyeri tekan
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri


Ekstremitas :





Oedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema


Kontraktur
Tidak ada 
Tidak ada 
Tidak ada 


Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik


Status mental
Baik
Baik
Baik


Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih


Sistem respirasi
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem kardiovaskuler
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada 
Tidak ada masalah


Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak ada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan


Kesehatan Lingkungan
Karakteristik rumah
Denah Rumah : 

1
2   U
6
3

      5    7

Lantai 1 Lantai 2
Ket : 
Ruang tamu 6. Kamar An. A
Ruang Keluarga 7. Kamar mandi 
Kamar Tn. S dan Ny. N
Dapur
Kamar mandi

Keadaan lingkungan dalam rumah
Ruamah yang ditinggalim oleh keluarga Tn. S merupakan rumah Kepemilikan pribadi jenis bangunannya adalah permanen, dengan Luas rumah 14 x 9 m. pekarangan 50m2 Lantai tempat tingganya menggunakan tehel, rumah memiliki sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan yang menyeluruh dengan jendela 20 daun. Penerangan menggunakan listrik hanya digunakan pada malam hari saja karena pada siang hari seluruh ruangan diterangi oleh cahaya melalui jendela.
Kebersihan lingkungan rumahnya cukup bersih. Untuk pengelolaan sampah keluarga Tn.S membuang sampah di tempat sampah umum.. Keluarga Tn. S menggunakan jamban jenis leher angsa. Sumber air bersih sekaligus air minum berasal dari pam .
Pengelolaan kebersihan dapur keluarga Tn. S sangat bagus. Ny.Nsetiap saar membersihkan dapur disapu setiap pagi dan sore..
Keamanan lingkungan rumah keluarga Tn.S sangat aman, tidak pernah terjadi pencurian, pembegalan dan kejahatan-kejahatan lain. Oleh sebab itu keluarga Tn. S sangat senang dan nyaman dengan kediamannya yang sekarang ini.
Karakteristik tetangga dan komunitas 
Di wilayah keluarga Tn.S jarak antara satu rumah dengan yang lainnya cukup rapat. 
Mobilitas Geografis keluarga
Menurut Tn.S dari dulu mereka tinggal di kota yang sama tidak pernah berpindah kedaerah yang lain.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat 
Ada beberapa perkumpulan masyarakat di kota tempat keluarga Tn.S tinggal naming perkumpulan masyarakat yang diikuti hanya Majelis ta’lim oleh Ny.N 
Sistem pendukung keluarga
Saat ini dalam keluarga tidak terdapat keluarga yang sakit, dan hubungan satu keluarga dengan yang lainnya cukup baik.
Struktur Keluarga
Pola komunikasi keluarga
Keluarga Tn. S berkomunikasi dengan bahasa bugis dan Indonesia. Tetapi bahasa bugis lebih sering digunakan didalam rumah 
Struktur kekuatan keluarga
Hingga saat ini hanya Tn.S yang berperan dalam mencari nafkah, sedangkan istrinya tdk bekerja 
Struktur peran (formal dan informal)
Dalam struktur peran keluarga, Tn. S sebagai kepala keluarga berperan sebagai sumber kekuatan keluarga, Ny.N hanya menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang berperan dalam mengurus rumah, sedangkan Tn. D berperan sebagi anak.
Nilai dan norma keluarga
Nilai dan norma yang dianut adalah dari dua sisi yaitu berdasarkan budaya suku bugis serta dari agama islam. Nilai dan norma yang dimaksut seperti, saling menghargai, menjaga kerukunan masyarakat serta gotong royong.
Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini: aging family member
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Riwayat kesehatan keluarga saat ini : 
Tn. S mengeluh merasakan sesak nafas dan susah tidur Latar belakang budaya keluarga
Keluarga Tn. Berlatar belakang suku bugis, nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku bugis. Wilayah tempat tinggal keluarga Tn. S mayoritas bersuku bugis.
Status Social Ekonomi Keluarga
Pengasil keluarga Tn.S adalah sebesar 4.000.000/bulan. Ada perubahan penghasilan sejak awal menikah hingga saat ini dimana terjadi peningkatan pendapatan saat ini dari sebelumnya.
Fungsi Keluarga
Fungsi Sosial
Keluarga Tn. S aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. 
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.S, sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
Koping Keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. S, bagi Tn. S pribadi yaitu pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. N paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Tn.D adalah masalah pekrjaan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
 Tn.S biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. S biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.A biasanyamemilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.

Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Tn.S biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
Harapan Keluarga 
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangga.
Tingkat Kemandirian Keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.

Kriteria 1 
:
keluarga menerima perawat

Kriteria 2 
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga

Kriteria 3 
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar

Kriteria 4 
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran

Kriteria 5 
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran

Kriteria 6 
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif

Kriteria 7 
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif


Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7

Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-

Tingkat II
V
v
v
v
-
-
-

Tingkat III
V
v
v
v
v
-
-

Tingkat IV
V
v
v
v
v
V
v


Tipe Keluarga Sejahtera






ANALISA DATA
Analisis Data
Kode  
Etiologi
Masalah

Ds : 
 - Keluarga mengatakan kurang memahami cara merawat.
 - Keluarga mengatakan makanan Tn”R” sama dengan keluarga yang lain - Pola tidur Tn”R” tidak sesuai dan kurang dari kebutuhan
 - Tn “R” mengatakan khawatir tensinya semakin tinggi dan stroke semakin parah - Keluarga kurang memahami cara mengenal masalah Tn “R” yang khawatir tensinya akan bertambah tinggi 
DO : 
-Keluarga tampak bingung dengan penyakit yang diderita Tn.R TD : 140/85 mmHg N : 84 x/mnt RR : 20 x/mnt


 Domain : 4
Kode : 00198
Kelas : 1

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
Gangguan pola tidur




RUMUSAN MASALAH
(domain 4 aktivitas/istrhat, kelas 1, kode 00198)
Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluara mengambil keputusan 
INTERVENSI KEPERAWATAN

No

Diagnosa

Tujuan & kriteria hasil (NOC)

Intervensi (NIC)


Domain : 4
Kode : 00198
Kelas : 1
Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluara mengambil keputusan 
Ds : 
 - Keluarga mengatakan kurang memahami cara merawat.
 - Keluarga mengatakan makanan  sama dengan keluarga yang lain - Pola tidur Tn”R” tidak sesuai dan kurang dari kebutuhan
 - mengatakan khawatir tensinya semakin tinggi dan stroke semakin parah - Keluarga kurang memahami cara mengenal masalah yang khawatir tensinya akan bertambah tinggi 
DO : 
-Keluarga tampak bingung dengan penyakit yang diderita Tn.R TD : 140/85 mmHg N : 84 x/mnt RR : 20 x/mnt

 Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan 

skala : tidur(0004)
Sangat terganggu
Banyak terganggu
Cukup terganggu
Sedikit terganggu
Tidak terganggu
dengan kriteria :
Jam tidur (skala 2  menjadi 3)
Kualitas tidur (skala 2  menjadi 3)

Intervensi keperawat
Peningkatan tidur (1850)
Identifikasi penyebab tidur
Monitor kebutuhan
Anjurkan klien untuk menciptakan lingkungan yang nyaman 
Anjurkan untuk minum obat nyeri sesuai





CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA
Puskesmas : Abeli 
Nama KK : Tn. S
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN

19 januari  2021
Domain : 4
Kode : 00198
Kelas : 1
Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluara mengambil keputusan 

Identifikasi penyebab tidur
Hasil : klien mengatakan tadi malam hanya tidur 3 jam
Monitor kebutuhan
Anjurkan klien untuk menciptakan lingkungan yang nyaman 
Anjurkan untuk minum obat nyeri sesuai
Hasil : klien meminum obat yang di anjurkan 
S: setelah minum obat klien sudah membaik dan tidur selama 5 jam
O: klien mengikuti istruksi perawat 





EVALUASI
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN

21 januari  2021
Domain : 4
Kode : 00198
Kelas : 1
Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluara mengambil keputusan 

S: klien mengatakan tidur hanya 5 jam pada malam 
O:klien terlihat lebih cerah dari sebelumnya
A:masalah gangguan pola tidur teratasii sebagian
P:intervensi di lnjutkan



BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Kasus keluarga Tn. S telah dilakukan asuhan keperawatan keluarga yang dimulai dari pengkajian sampai tahap evaluasi. 
Pendokumentasian asuhan keperawatan keluarga Tn. S dilakukan bersama-sama keluarga Tn. S melalui proses yang dimulai dari pengkajian sampai tahap evaluasi dengan diawali penulisan tanggal, jam dan diakhiri nama dan tanda tangan.
Faktor pendukung keluarga kooperatif sedangkan faktor penghambat adalah kesibukan keluarga sebagai penjual nasi sehingga tidak bisa mengontrol aktifitas.
Saran 
Keluarga Diharapkan keluarga dapat menerapkan pendidikan kesehatan yang telah diberikan antara lain senam hipertensi secara teratur.
Puskesmas Diharapkan pihak puskesmas dapat menindaklanjuti asuhan keperawatan yang diberikan dan diintegrasikan dengan program kunjungan rumah (home care) atau Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas).






DAFRAR PUSTAKA
Andrian Patica N. (E-journal keperawatan volume 4 nomor 1 Mei 2016). Hubungan Konsumsi Makanan dan Kejadian Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Ranomut Kota Manado. 
Anggara, F.H.D., & Prayitno, N. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tekanan Darah di Puskesmas Telaga Murni, Cikarang Barat Tahun 2012. Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKES MH. Thamrin. Jakarta. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 5 (1) : 20-25. 
Armilawaty, Amalia H, Amirudin R. (2007). Hipertensi dan Faktor Resikonya Dalam Kajian Epidemiologi. Bagian Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makasar. Buckman. (2010). Apa yang Anda Ketahui Tentang Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: 
Citra Aji Parama. Dina Savitri, S.ST. (2017). Cegah Asam Urat Dan Hipertensi. Yogyakarta: Healthy. Friedman, M.M et al. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, dan Praktik. Ed 5. Jakarta: EGC. 
Heniwati. (2008). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur. Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS PADA LANSIA (GERONTIK )

ASUHAN KEPERAWANTAN KELUARGA TN. SDENGAN MASALAH KESEHATANGAGAL GINJAL KRONIK PADA TN.S