ASUHAN KEPERAWANTAN KELUARGA TN. SDENGAN MASALAH KESEHATANGAGAL GINJAL KRONIK PADA TN.S
Tugas Makalah
ASUHAN KEPERAWANTAN KELUARGA TN. S
DENGAN MASALAH KESEHATAN
GAGAL GINJAL KRONIK PADA TN.S
OLEH:
NURFITA
S.0017.P.029
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari, 05 februari 2021
Nurfita
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 6
BAB II 7
TINJAUAN TEORI 7
A. Defenisi 7
B. Anatomi fisiologi 7
C. Etiologi 9
D. Patofisiologi 9
E. Pathway 11
F. Manifestasi klinis 11
G. klasifikasi 12
H. Pemeriksaan penunjang 12
I. Penatalaksanaan 12
BAB III 14
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN 14
A. Pengkajian Keluarga 14
B. Pengkajian Individu 16
C. Kesehatan Lingkungan 21
D. Struktur Keluarga 22
E. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga 23
F. Status Social Ekonomi Keluarga 23
G. Fungsi Keluarga 23
H. Koping Keluarga 24
I. Aktivitas Rekreasi Keluarga 24
J. Harapan Keluarga 24
K. Tingkat Kemandirian Keluarga 24
L. Tipe Keluarga Sejahtera 25
I. ANALISA DATA 25
II. RUMUSAN MASALAH 27
III. CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA 29
IV. EVALUASI 31
BAB IV 33
PENUTUP 33
A. Kesimpulan 33
B. Saran 33
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan manusia yang dianggap sebagai seseorang yang mengalami berbagai penurunan fungsi kehidupannya. Proses menua didalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu peristiwa yang akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang dan berlangsung secara terus menerus(1).
Selain perubahan kemunduran fisik dan mental, lansia juga cenderung berkonsentrasi pada masalah kematian. Semakin lanjut usia seseorang, biasanya individu menjadi lebih mementingkan tentang kematian itu sendiri dan kematian diri sendiri. Pemikiran tentang kematian merupakan bagian yang penting pada tahap akhir kehidupan bagi banyak individu dalam proses menjelang ajal(2)
Penurunan system kerja organ di usia lanjut dapat menyebabkan penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga penyakit yang sulit disembuhkan bahkan tidak dapat disembuhkan, penyakit yang tidak dapat disembuhkan disebut dengan penyakit terminal. Pasien penyakit terminal adalah pasien yang sedang menderita sakit dimana tingkat penyakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Jadi keadaan terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi yang sakit untuk sembuh. Keadaan sakit tersebut dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan(3).
Salah satu dari banyak penyakit terminal yaitu gagal ginjal kronik. GGK adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel. Akibat dari penurunan atau kegagalan fungsi ginjal akan terjadi penumpukan zat-zat toksik dalam tubuh. Kondisi ini memerlukan tindakan dialysis yang bertujuan menggantikan fungsi ginjal sehingga memperbaiki kualitas hidup pada penderita GGK(4).
Menurut WHO, terdapat 57 juta kematian di dunia, dimana Proportional Mortality Rate (PMR) penyakit tidak menular di dunia adalait sebesar 36 juta (63%) (WHO, 2011). Angka penyakit tidak menular juga terus mengalami peningkatan. Salah satu penyakit tidak menular yang juga mengalami peningkatan adalah Gagal Ginjal Kronik (GGK)(5).
Tingginya prevalensi gagal ginjal kronis juga terjadi di Indonesia, karena angka ini dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Jumlah penderita gagal ginjal kronis di Indonesia Berdasarkan data pada masing-masing provinsi di Indonesia, angka prevalensi tertinggi GGK yaitu berada di Sulawesi Tengah sebesar 0,5%, diikuti Aceh, Gorontalo, dan Sulawesi Utara masing-masing 0,4%. Untuk provinsi Nusta Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta masing-masing 0,3%, dan Sulawesi Tenggara 0,2%(6).
Penderita GGK disarankan agar melakukan Transplantasi ginjal karena ini merupakan pengobatan yang paling efektif agar penderita GGK hidupnya tidak tergantung pada alat dialisa. Salah satu terapi yang dapat dilakukan oleh penderita GGK yaitu hemodialisa. Hemodialisa (HD) adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh pen- derita dan beredar dalam sebuah mesin di luar tubuh yang disebut dialiser. Frekuensi tindakan HD bervariasi tergantung banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, rata rata penderita menjala- ni tiga kali dalam seminggu, sedangkan lama pelaksanaan hemodialisa paling sedikit tiga sampai empat jam tiap sekali tindakan terapi(7).
Tujuan
Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit gagal ginjal kronik
Mahasiswa mengetahui cara mencegah gagal ginjal kronik
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit gagal ginjal kronik
Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus gagal ginjal kronik
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan gagal ginjal kronik
Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai kasus gagal ginjal kronik
BAB II
TINJAUAN TEORI
Defenisi
Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan maninfestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam darah(8). Gagal ginjal kronik atau penyakit tahab akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun berifat progresif dan irreversible(8).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) atau Chronic Kidney Disease ( CKD) adalah suatu penurunan fungsi ginjal yang cukup berat dan terjadi secara perlahan dalam waktu yang lama (menahun) yang di sebabkan oleh berbagai penyakit ginjal, bersifat progesif dan umumnya tidak dapat pulih(9).
Anatomi fisiologi
Ginjal
Ginjal merupakan suatu organ yang terletak retroperitoneal pada dinding abdomen di kanan dan kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari yang kiri karena besarnya lobus hepar. Ginjal dibungkus oleh tiga lapis jaringan. Jaringan yang terdalam adalah kapsula renalis, jaringan pada lapisan kedua adalah adiposa, dan jaringan terluar adalah fascia renal. Ketiga lapis jaringan ini 9 berfungsi sebagai pelindung dari trauma dan memfiksasi ginjal.
Ginjal memiliki korteks ginjal di bagian luar yang berwarna coklat terang dan medula ginjal di bagian dalam yang berwarna coklat gelap. Korteks ginjal mengandung jutaan alat penyaring disebut nefron. Setiap nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Medula ginjal terdiri dari beberapa massa-massa triangular disebut piramida ginjal dengan basis menghadap korteks dan bagian apeks yang menonjol ke medial. Piramida ginjal berguna untuk mengumpulkan hasil ekskresi yang kemudian disalurkan ke tubulus kolektivus menuju pelvis ginjal.
Fisiologi
Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan mengekresikan zat terlarut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dicapai dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus dengan reabsorpsi sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah yang sesuai di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan zat terlarut dan air di eksresikan keluar tubuh dalam urin melalui sistem pengumpulan urin.
ginjal memiliki fungsi yaitu:
Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh.
Memelihara volume plasma yang sesuai sehingga sangat berperan dalam pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri.
Membantu memelihara keseimbangan asam basa pada tubuh.
Mengekskresikan produk-produk sisa metabolisme tubuh.
Mengekskresikan senyawa asing seperti obat-obatan.
Ginjal mendapatkan darah yang harus disaring dari arteri. Ginjal kemudian akan mengambil zat-zat yang berbahaya dari darah. Zat-zat yang diambil dari darah pun diubah menjadi urin. Urin lalu akan dikumpulkan dan dialirkan ke ureter. Setelah ureter, urin akan ditampung terlebih dahulu di kandung kemih. Bila orang tersebut merasakan keinginan berkemih dan keadaan memungkinkan, maka urin yang ditampung dikandung kemih akan di keluarkan lewat uretra.
Tiga proses utama akan terjadi di nefron dalam pembentukan urin, yaitu filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi. Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang hampir bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Kebanyakan zat dalam plasma, kecuali protein, di filtrasi secara bebas sehingga konsentrasinya pada filtrat glomerulus dalam kapsula bowman hampir sama dengan plasma. Awalnya zat akan difiltrasi secara bebas oleh kapiler glomerulus tetapi tidak difiltrasi, kemudian di reabsorpsi parsial, reabsorpsi lengkap dan kemudian akan dieksresi.
Etiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronik ( GGK) yaitu Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis), Penyakit peradangan (glomerulonefritis), Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis Arteri renalis), Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosis sitemik), Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal), Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme), Nefropati toksik, Nefropati obstruktif (batu saluran kemih).
Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah yang abnormal atau rendah, terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl (2,7 hingga 3,3 mmol/L), (Smeltzer, 2008). Sedangkan hipoglikemi merupakan salah satu dari komplikasi atau efek dari proses hemodialisa.
Patofisiologi
Penyakit gagal ginjal kronik pada awalnya tergantung pada penyakit yang men-dasarinya, tapi dalam perkem-bangan selanjutnya proses yang terjadi kurang lebih sama. Mula-mula karena adanya zat toksik, infeksi dan obstruksi saluran kemih yang menyebab-kan retensi urine. Dari penyebab tersebut, Glomerular Filtration Rate (GFR) di seluruh massa nefron turun dibawah normal. Hal yang dapat terjadi dari menurunnya GFR meliputi: sekresi protein terganggu, retensi Na dan sekresi eritropoitin turun. Hal ini mengakibatkan terjadinya sindrom uremia yang diikuti oleh peningkatan asam lambung dan pruritus. Asam lambung yang meningkat akan merangsang rasa mual, dapat juga terjadi iritasi pada lambung dan perdarahan jika iritasi tersebut tidak ditangani yang dapat menyebabkan melena.
Proses retensi Na menyebabkan total cairan ekstra seluler meningkat, kemudian terjadilah edema. Edema tersebut menyebabkan beban jantung naik sehingga adanya hipertrofi ventrikel kiri dan curah jantung menurun. Proses hipertrofi tersebut diikuti juga dengan menurunnya cardiac output yang menyebabkan menurun-nya aliran darah ke ginjal, kemudian terjadilah retensi Na dan H2O meningkat.
Hal ini menyebabkan kelebihan volume cairan pada pasien GGK. Selain itu menurunnya cardiac output juga dapat menyebabkan suplai oksigen kejaringan mengalami penurunan menjadikan meta- bolisme anaerob menyebabkan timbunan asam meningkat sehingga nyeri sendi terjadi, selain itu cardiac output juga dapat mengakibatkan penuru- nan suplai oksigen keotak yang dapat meng-akibatkan kehilangan kesadaran. Hipertrofi ventrikel akan mengakibatkan payah jantung kiri sehingga bendungan atrium kiri naik, mengakibatkan tekanan vena pulmonalis sehingga kapiler paru naik terjadi edema paru yang mengakibatkan difusi O2 dan CO2 terhambat sehingga pasien merasakan sesak. Adapun Hb yang menurun akan mengakibatkan suplai O2 Hb turun dan pasien GGK akan mengalami kelemahan atau gangguan perfusi jaringan(9).
Pathway
Manifestasi klinis
Pasien GGK stadium 1 sampai 3 (dengan GFR ≥ 30 mL/menit/1,73 m 2 ) biasanya memiliki gejala asimtomatik. Pada stadium-stadium ini masih belum ditemukan gangguan elektrolit dan metabolik. Sebaliknya, gejala-gejala tersebut dapat ditemukan pada GGK stadium 4 dan 5 (dengan GFR < 30 mL/menit/1,73 m 2 ) bersamaan dengan poliuria, hematuria, dan edema. Selain itu, ditemukan juga uremia yang ditandai dengan peningkatan limbah nitrogen di dalam darah, gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa dalam tubuh yang pada keadaan lanjut akanmenyebabkan gangguan fungsi pada semua sistem organ tubuh (Arora, 2014).
Kelainan hematologi juga dapat ditemukan pada penderita ESRD. Anemia normositik dan normokromik selalu terjadi, hal ini disebabkan karena defisiensi pembentukan eritropoetin oleh ginjal sehingga pembentukan sel darah merah dan masa hidupnya pun berkurang (Arora, 2014).
klasifikasi
berdasarkan dari stadium tingkat penurunan GFR adalah sebagai berikut :
Stadium 1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal (90 atau lebih)
Stadium 2 : Kerusakan ginjal dengan penurunan ringan pada GFR (60-89).
Stadium 3: Penurunan lanjut pada GFR (30-59)
Stadium 4 : Penurunan berat pada GFR (15-29)
Stadium 5 : Kegagalan ginjal (GFR di bawah 15)
Pemeriksaan penunjang
Tujuan pemeriksaan laboratorium yaitu memastikan dan menentukan derajat penurunan faal ginjal (LFG), identifikasi etiologi dan menentukan perjalanan penyakit termasuk semua faktor pemburuk faal ginjal
Pemeriksaan faal ginjal (LFG) Pemeriksaan ureum, kreatinin serum dan asam urat serum sudah cukup memadai sebagai uji saring untuk faal ginjal (LFG).
Etiologi gagal ginjal kronik (GGK) Analisis urin rutin, mikrobiologi urin, kimia darah, elektrolit dan imunodiagnosis.
Pemeriksaan laboratorium untuk perjalanan penyakit Progresivitas penurunan faal ginjal, hemopoiesis, elektrolit, endoktrin, dan pemeriksaan lain berdasarkan indikasi terutama faktor pemburuk faal ginjal (LFG).
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik meliputi :
Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya
Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid ( comorbid condition )
Memperlambat perburukkan fungsi ginjal.
Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular
Pencegahan dan terapi terhadap komplikasi
Terapi pengganti ginjal berupa dialysis atau transplantasi ginjal.
BAB III
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Keluarga
Data Umum & Kondisi Kesehatan Keluarga
Puskesmas
:
Abeli
Alamat
:
Abeli
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Sabtu, 18 Januari
Nama KK
:
Tn. S
Usia
:
50 tahun
Pendidikan
:
Strata 1
Pekerjaan
:
Pns
Komposisi Keluarga :
No
Nama Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi
1.
Tn. S
Kepala keluarga
L
50
Tamat SMA
Islam
Bugis
PNS
Lengkap
Tidak ada
Tidak ada
sehat
Tidak ada
2.
Ny. N
Ibu rumah tangga
P
49
Tamat SMA sederajat
Islam
Bugis
IRT
Lengkap
Tidak ada
Tidak ada
sehat
Tidak ada
3.
Tn. A
Anak
L
21
Tamat SMA Sederajat
Islam
Tolaki
Tidak/belum bekerja
Lengkap
Tidak ada
Tidak ada
sehat
Tidak ada
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan
Jarak
Cara tempuh
Puskesmas
:
500 m
Motor roda 2
Posyandu
:
300 m
Motor roda 2
Tipe Keluarga
Keluarga inti
Pengkajian Individu
No
Data
Tn. S
Ny. N
Tn. A
Keadaan umum :
Compos mentis
Compos mentis
Compos mentis
Penampilan
Baik
Baik
Baik
BB
60 Kg
50 Kg
50 Kg
TB
170 cm
150 cm
165 cm
Status Gizi
Kurang (Berat badan kurang berdasarkan IMT)
Baik (Berat badan ideal berdasarkan IMT)
Baik (Berat badan ideal berdasarkan IMT)
Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan sekarang
Sesak nafas
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang lalu
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan keluarga (turunan)
asam urat
Tidak ada
Tidak ada
TTV :
Tekanan darah
120 MmHg
120 MmHg
110 MmHg
Nadi
80 X/menit
78X/menit
84X/Menit
Respirasi
18X/menit
18X/menit
22X/Menit
Suhu
36,60C
36,90C
37,00C
CRT
< 2 detik
< 2 detik
< 2 detik
Mata :
Sclera
putih
Putih
Putih
Konjungtiva
Pink
Pink
Pink
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Fungsi
Baik
Baik
Baik
Telinga :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
Hidung :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
Mulut :
Gigi
Baik
Baik
Baik
Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik
Kelembaban
Baik
Baik
Baik
Leher :
Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Dada :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Suara paru
Resonan
Resonan
Resonan
Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit
Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2
Abdomen :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Nyeri tekan
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri
Ekstremitas :
Oedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Kontraktur
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik
Status mental
Baik
Baik
Baik
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih
Sistem respirasi
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem kardiovaskuler
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada
Tidak ada masalah
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak ada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
Kesehatan Lingkungan
Karakteristik rumah
Denah Rumah :
1
2 U
6
3
5 7
Lantai 1 Lantai 2
Ket :
Ruang tamu 6. Kamar An. A
Ruang Keluarga 7. Kamar mandi
Kamar Tn. S dan Ny. N
Dapur
Kamar mandi
Keadaan lingkungan dalam rumah
Ruamah yang ditinggalim oleh keluarga Tn. S merupakan rumah Kepemilikan pribadi jenis bangunannya adalah permanen, dengan Luas rumah 14 x 9 m. pekarangan 50m2 Lantai tempat tingganya menggunakan tehel, rumah memiliki sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan yang menyeluruh dengan jendela 20 daun. Penerangan menggunakan listrik hanya digunakan pada malam hari saja karena pada siang hari seluruh ruangan diterangi oleh cahaya melalui jendela.
Kebersihan lingkungan rumahnya cukup bersih. Untuk pengelolaan sampah keluarga Tn.S membuang sampah di tempat sampah umum.. Keluarga Tn. S menggunakan jamban jenis leher angsa. Sumber air bersih sekaligus air minum berasal dari pam .
Pengelolaan kebersihan dapur keluarga Tn. S sangat bagus. Ny.S setiap saar membersihkan dapur disapu setiap pagi dan sore..
Keamanan lingkungan rumah keluarga Tn.S sangat aman, tidak pernah terjadi pencurian, pembegalan dan kejahatan-kejahatan lain. Oleh sebab itu keluarga Tn. S sangat senang dan nyaman dengan kediamannya yang sekarang ini.
Karakteristik tetangga dan komunitas
Di wilayah keluarga Tn.S jarak antara satu rumah dengan yang lainnya cukup rapat.
Mobilitas Geografis keluarga
Menurut Tn.S dari dulu mereka tinggal di kota yang sama tidak pernah berpindah kedaerah yang lain.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Ada beberapa perkumpulan masyarakat di kota tempat keluarga Tn.S tinggal naming perkumpulan masyarakat yang diikuti hanya Majelis ta’lim oleh Ny.S,
Sistem pendukung keluarga
Saat ini dalam keluarga tidak terdapat keluarga yang sakit, dan hubungan satu keluarga dengan yang lainnya cukup baik.
Struktur Keluarga
Pola komunikasi keluarga
Keluarga Tn. S berkomunikasi dengan bahasa bugis dan Indonesia. Tetapi bahasa bugis lebih sering digunakan didalam rumah
Struktur kekuatan keluarga
Hingga saat ini hanya Tn.S yang berperan dalam mencari nafkah, sedangkan istrinya tdk bekerja
Struktur peran (formal dan informal)
Dalam struktur peran keluarga, Tn. S sebagai kepala keluarga berperan sebagai sumber kekuatan keluarga, Ny.S hanya menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang berperan dalam mengurus rumah, sedangkan Tn. D berperan sebagi anak.
Nilai dan norma keluarga
Nilai dan norma yang dianut adalah dari dua sisi yaitu berdasarkan budaya suku bugis serta dari agama islam. Nilai dan norma yang dimaksut seperti, saling menghargai, menjaga kerukunan masyarakat serta gotong royong.
Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini: middle age perens
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Riwayat kesehatan keluarga saat ini :
Tn. S mengeluh merasakan sesak nafas dan susah tidur Latar belakang budaya keluarga
Keluarga Tn. Berlatar belakang suku bugis, nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku bugis. Wilayah tempat tinggal keluarga Tn. S mayoritas bersuku bugis.
Status Social Ekonomi Keluarga
Pengasil keluarga Tn.S adalah sebesar 4.000.000/bulan. Ada perubahan penghasilan sejak awal menikah hingga saat ini dimana terjadi peningkatan pendapatan saat ini dari sebelumnya.
Fungsi Keluarga
Fungsi Sosial
Keluarga Tn. S aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.S, sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
Koping Keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. S, bagi Tn. S pribadi yaitu pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. S paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Tn.D adalah masalah pekrjaan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
Tn.S biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. S biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.D biasanyamemilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Tn.S biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
Harapan Keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangga.
Tingkat Kemandirian Keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.
Kriteria 1
:
keluarga menerima perawat
Kriteria 2
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga
Kriteria 3
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
Kriteria 4
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Kriteria 5
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran
Kriteria 6
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif
Kriteria 7
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif
Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7
Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-
Tingkat II
V
v
v
v
-
-
-
Tingkat III
V
v
v
v
v
-
-
Tingkat IV
V
v
v
v
v
V
v
Tipe Keluarga Sejahtera
ANALISA DATA
Analisis Data
Kode
Etiologi
Masalah
Ds :
Klien mengeluh sesak sejak sehari sebelum masuk rumah sakit
Klien mengeluh lemas
Do:
Td : 120/80 MmHg
N : 115 X/Menit
S : 36,8o C
R : 26 X/Menit
Kode : D.0003
Kategori : fisiologi
Sub Kategori : respirasi
Retensi Na
CES meningkat
Tekanan kapiler naik
Volume interstitial naik
Edema paru
Dipsnea, sianosis
Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler
Ds :
Klien mengeluh lemas saat beraktifitas
Do:
Td : 160/80 MmHg
N : 115 X/Menit
S : 36,8o C
R : 26 X/Menit
Kode :
D.0056
Kategori : fisiologis
Sub Kategori : Aktivitas/istrahat
Sekresi eritropoietin
Produksi Hb menurun
Suplai O2 ke jaringan menurun
Gangguan perfusi jaringan perifer
Intoleransi aktifitas
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan perfusi perifer
RUMUSAN MASALAH
D.0003 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler
D.0056 Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan perfusi perifer
INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Diagnosa
Tujuan & kriteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
kategori : fisiologis
subkategori : respirasi
Kode : D.0003
Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus-kapiler
ditandai dengan :
Ds:
Tn. S mengeluh sesak sejak sehari sebelum masuk rumah sakit
Tn. S mengeluh lemas
Do:
Td : 160/80 MmHg
N : 115 X/Menit
S : 36,8o C
R : 26 X/Menit
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan
Pertukaran gas (L.01003)
skala :
meningkat,
cukup meningkat,
sedang,
cukup menurun,
menurun,
dengan kriteria :
Dipsnea (skala 2 menjadi 3)
Takikardia (skala 2 menjadi 3)
Intervensi keperawat
Terapi Oksigen: (I.08250)
Aktivitas Keperawatan
Monitor Kecepatan aliran oksigen
Pertahankan kepatenan jalan nafas
Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen dirumah
Kolaborasi penentuan oksigen dirumah
2.
Kategori : Fisiologis
Subkategori : aktifitas/istirahat
Kode : D.0056
Intoleransi aktifitas b.d gangguan perfusi perifer
ditandai dengan :
Ds:
Klien mengeluh lemas saat beraktifitas
Do:
Td : 160/80 MmHg
N : 115 X/Menit
S : 36,8o C
R : 26 X/Menit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
Toleransi aktifitas (L.05047)
Skala
menurun,
cukup menurun,
sedang,
cukup meningkat,
meningkat
dengan kriteria :
Frekuensi nadi (skala 3 menjadi 4)
Intervensi keperawat
Manajemen energi (I.05178)
Aktivitas Keperawatan :
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Lakukan latihan rentan gerak pasif
Anjurkan tirah baring
Kolaborasikan dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA
Puskesmas :
Nama KK : Tn. S
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
19 januari 2021
Kode : D.0003
Diagnosa : gangguan pertukaran gas
Memonitor Kecepatan aliran oksigen
Hasil: aliran oksigen sebanyak 4 liter/menit
Mempertahankan kepatenan jalan nafas
Hasil: Jalan nafas dipatenkan, dibantu dengan posisi semifowler
Mengajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen dirumah
Hasil: keluarga pasien memahami cara memasang oksigen dirumah
Mengkolaboraskani penentuan oksigen dirumah
Hasil: oksigen dirumah ditentukan sebanyak 2 liter/menit
S: klien mengatakan masih merasa sesak
O: TTV
Td : 120/80 MmHg
N : 108 X/Menit
S : 36,8o C
R : 24 X/Menit
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
Kode : D.0056
Diagnosa : intoleransi aktifitas
Mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Hasil: Fungsi tubuh yang mengalami gangguan adalah, sistem metabolic dan kardiovaskuler
Melakukan latihan rentan gerak pasif
Hasil: latihan ROM pasif
Menganjurkan tirah baring
Hasil: klien dianjurkan untuk tirah baring
Mengkolaborasikan dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
Hasil: Peningkatan nafsu makan dilakukan oleh ahli gizi
S: rasa lemas masih dirasakan namun sudah berkurang
O: klien sehatrian hanya berbaring dan kurang gerak
TTV:
Td : 160/80 MmHg
N : 108 X/Menit
S : 36,8o C
R : 24 X/Menit
EVALUASI
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
21 januari 2021
Kode :D.0003
Diagnosa : gangguan pertukaran gas
S: klien mengatakan masih merasa sesak
O: TTV
Td : 160/80 MmHg
N : 108 X/Menit
S : 36,8o C
R : 24 X/Menit
A: masalah belum teratasi
P: intervensi dipertahankan
21 Desember 2020
Kode :D.0056
Diagnosa : intoleransi aktivitas
S: rasa lemas masih dirasakan namun sudah berkurang
O: klien sehatrian hanya berbaring dan kurang gerak
TTV:
Td : 160/80 MmHg
N : 108 X/Menit
S : 36,8o C
R : 24 X/Menit
A: masalah belum teratasi
P: intervensi dipertahankan
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Salah satu dari banyak penyakit terminal yaitu gagal ginjal kronik. GGK adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel. Akibat dari penurunan atau kegagalan fungsi ginjal akan terjadi penumpukan zat-zat toksik dalam tubuh. Kondisi ini memerlukan tindakan dialysis yang bertujuan menggantikan fungsi ginjal sehingga memperbaiki kualitas hidup pada penderita GGK
Rumusan asuhan keperawatan keperawatan pada kasus gagal ginjal kronik dari makalah ini, umumnya sama pada asuhan keperawatan lainnya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implenentasi dan evaluasi, dengan buku nanda nic noc sebagai bahan acuan. Pada kasus gagal ginjal kronik ini saya menggunakan pengkajian KMB dengan pendekatan pada sistem gastrointestinal.
Saran
Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan gagal ginjal kronik bisa lebih baik lagi.
DAFRAR PUSTAKA
1. Harapan P, Sabrian F, Utomo W. Studi Fenomenologi Persepsi Lansia Dalam Mempersiapkan Diri Menghadapi Kematian. Jom Psik. 2014;1(OKTOBER):1.
2. Hulu A. Perawatan Menjelang Ajal Pada pada Pasien Lansia menurut Perspektif Budaya Nias di Desa Ombolata Kecamatan Alasa Kabupaten Nias Utara. 2016;
3. Banjarnahor S. Hubungan Kesiapan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Yang Menderita Penyakit Terminal Di Rumah Sakitmurni Teguh Medan. 2020;1(1):1–12.
4. Pratiwi DA, Warsiti. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Depresi Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa Di Rs Pku Muhammadiyah Yogyakarta Naskah. 2014;1–17.
5. lathifah j annis umu. FAKTOR RISIKO KEJADIAN GAGAL GINJAL KRONIK PADA USIA DEWASA MUDA DI RSUD Dr. MOEWARDI. 2016;
6. Riskesdas. riset kesehatan dasar. Expert Opin Investig Drugs. 2013;7(5):803–9.
7. supriady, wagiyo widowati sek. Tingkat Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Terapi Hemodialisis. KEMAS J Kesehat Masy. 2011;6(2):107–12.
8. Ratri anggi mustika. ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. N DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN: GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG ANGGREK BUGENVIL RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI_. Ekp. 2015;13(3):1576–80.
9. Handayani T. ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENGALAMI HIPOGLIKEMIA DI RUANG HEMODIALISA RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA. 2012;
10. KARTIKASARI D. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN MASALAH GANGGUAN PERTUKARAN GAS DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL PASURUAN. 2018;
Komentar
Posting Komentar